SEJARAH BATANG-BATANG DAYA

Sejarah terbentuknya desa Batang-batang Daya tidak dapat ditelusuri dari referensi kesejarahan kabupaten Sumenep, atau secara khusus kecamatan Batang-batang. Tulisan tentang masyarakat dan wilayah pemerintahan desa ini memang tidak memiliki narasi yang objektif. Bahkan , pinutur dari petuapetua kampong dan desa yang kemudian berpeluang terjadi bisa pada generasi berikutnya, belum mengangkat spesifikasi peristiwa dimana wilayah yang disepakati pembentukannya itu kemudian diberi nama Batang-batang Daya.  Akan tetapi, sebagai upaya analisis kesejarahan, titik pertama cerita bisa memunculkan dari cerita daerah  yang dianggap khalayak paling dominan. Tentang penamaan wilayah Batang-batang , dari sinilah  titik pertama bisa dinilai melalui tokoh legenda Madura, yaitu pangeran joko tole dalam suatu supervisi ke sepanjang wilayah pantai utara, pangeran joko tole yang mewarisi kekuasaan kerajaan Sumenep menderita sakit dalam perjalanan. Untuk beberapa waktu, sang pangeran diistirahatkan  di wilayah ujung timur daratan Sumenep (yang sekarang bernama Dungkek). Kondisinya yang belum membaik setelah menjalani istirahat yang cukup, akhirnya memaksa perjalanan dilanjutkan. Sebagai pengawal bertugas secara bergiliran membawa tubuh pangeran dalam tandu. Mendengar nama batang-batang, mungkin kita akan beranggapan bahwa nama itu diambil dari ranting atau cabang pohon. Orang-orang pedesaan menyebutnya TANG BHETANG (bahasa Madura) bila dibahasaindonesiakan menjadi tang batang. Kurang diketahui bagaimana nama tang batang bisa menjadi batang-batang. Tang bhatang diambil dari kata bhabhatang yang artinya bangkai. Kita tahu bahwa kata bangkai digunakan untuk makhluk hidup yang sudah meninggal. Bermula ketika joko tole menempuh perjalanan dari salah satu desa menuju kraton Sumenep. Namun, dalam perjalanan sang pendekar (Joko Tole) mengalami gangguan, gangguan yang yang menyebabkan prajuritnya. Gangguan itu bernama penyakit yang menyebabkan Joko Tole tidak bisa berjalan. Dalam perjalanan Joko Tole berwasiat kepada prajurit/Abdi dalem. Jika beliau wafat ditengah perjalanan , jenazahnya supaya dipikul sampai ke kraton Sumenep. Namun,  apabila sebelum sampai ke kraton Sumenep alat pemikulnya patah (pikulan), beliau berpesan agar jenazahnya dikebumikan di tempat itu juga. Namun, takdir tidak dapat dirubah, Joko Tole benar menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan, sebelum sampai di kraton sumenep. Beliau meninggal di tempat yang sekarang dikenal dengan Batang-batang.

Comments

Popular Posts